VISI:

“MEMBANGUN TAMPINGAN BERWIBAWA DAN BERMARTABAT”

Misi

9

1. Membangun ekonomi masyarakat kecil
2. Membangun BUMDesa dengan membuka berbagai unit usaha
3. Membuat yayasan sosial yang berbadan hukum
4. Membangun rumah free Wi-Fi (free dalam pengadaan perangkat)
5. Membangun terminal kecil untuk kendaraan truk warga Desa Tampingan
6. Membangun pasar rakyat untuk ekonomi menengah ke bawah
7. Pelayanan administrasi desa yang ramah, cepat dan gratis

Sejarah Desa Tampingan  Dan Kepemimpinannya

Sejarah Desa Tampingan dimulai dari kisah Nyai Pandansari , beliau adalah Adik Ki Ageng Pandaranaran yang merupakan putra dari Bupati Pertama Semarang Harya Madya Pandan. Sepeninggal ayahandanya, Pangeran Mangkubumi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Bupati Kedua Semarang dengan gelar Ki Ageng Pandanaran. Ia diangkat menjadi kepala pemerintahan Semarang pada tanggal 2 Mei 1547 M. atas hasil perundingan antara Sutan Hadiwijaya (penasehat Istana Demak) dengan Sunan Kalijaga.

Oleh karena dipandang sudah cukup untuk menjabat Bupati di Semarang beliau melepas jabatannya sebagai Bupati Semarang dan ingin menyebarkan agama Islam yang kemudian membuatnya pergi meninggalkan Semarang menuju ke arah selatan dan sampailah di daerah yang sekarang bernama Tembayat, beliau kemudian tinggal di Tembayat yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bayat.

Setelah ditinggal kakaknya, Nyai Pandansari menyusul kakaknya namun Ki Ageng Pandanaran tidak secara jelas menyebutkan ke daerah mana akan pergi untuk menyebarkan Islam dan hanya berpesan bahwa beliau akan pergi ke daerah Selatan Pulau Jawa. Nyai Pandansari beranggapan bahwa Sang Kakak pergi ke arah Selatan Semarang ke daerah yang bernama Blimbing Segulung. Dalam perjalanan tersebut Nyai Pandansari di temani oleh beberapa orang Abdi dan salah satu diantaranya bernama Ki Kertosono.

Dalam perjalanan tersebut akhirnya Nyai Pandansari dan Abdinya sampailah ke sebuah Pesantren yang dipimpin oleh Ki Jiworogo dan di tempat inilah kemudian Nyai Pandasari menetap dan diangkat sebagai murid Ki Jiworogo.

Dalam kisah selanjutnya Ki Kertosono yang merupakan salah satu Abdi Kinasih dari Nyai Pandansari bubak yoso di wilayah sebelah timur Boja yang kemudian tempat tersebut di beri nama Tampingan dan kemudian beliau menetap di wilayah ini hingga wafat. Sepanjang jalan Boja hingga Tampingan dahulunya adalah merupakan lahan pertanian yang sangat luas. Arti kata tampingan adalah dinding pematang sawah pada bagian bawah, karena Ki Kertosono tinggal di desa Tampingan kemudian beliau dijuluki dengan nama Ki Ageng Tampingan.

Tampingan dan daerah-daerah sekitarnya adalah merupakan lahan pertanian yang subur karena di sebelah selatan Desa ini terdapat aliran sungai Blorong dan di tempat tersebut terdapat sebuah air terjun atau dalam istilah Jawa disebut sebagai grojogan, oleh karena itu wilayah di tempat tersebut kemudian disebut sebagai Dusun Grajegan yang berasal dari kata “grojogan”. Seiring berjalannya waktu grojogan tersebut menghilang karena tergerus oleh derasnya aliran sungai. Namun demikian saat ini masih terdapat air terjun yang disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Tuk Wungu.

Wilayah lainnya dari Desa Tampingan terdapat Dusun Rejosari yang sebelumnya bernama Dilem, konon menurut cerita di wilayah ini dulunya terdapat banyak tanaman dilem atau tanaman nilam yang saat ini populer disuling untuk diambil minyaknya. Kemudian nama tanaman ini digunakan untuk memberi nama salah satu dusun di wilayah paling timur Desa Tampingan ini.

Wilayah paling utara dari Desa Tampingan adalah Dusun Pandansari, nama dusun ini juga diambil dari nama tanaman yaitu pandan. Nama pandan kemudian ditambahkan kata sari yang berarti indah dan nama tersebut digunakan hingga saat ini.

Wilayah lain disekitar Tampingan yang bukan merupakan wilayah desa Tampingan juga diberinama dengan nama tanaman seperti misalnya Karang Manggis, Bengle, Salam, Salam Sari dan Jerukan.

Kepala Desa Pertama Desa Tampingan

Siapa pemimpin Tampingan setelah Ki Ageng Tampingan tidak ada sumber yang jelas baik bukti tertulis maupun cerita yang diwariskan secara turun temurun. Kisah pemimpin Desa Tampingan kemudian dapat terdokumentasi kembali sejak datangnya seseorang yang konon merupakan seorang Habib dari marga Al-Basyaiban bernama Kyai Ismail Al-Basyaiban  pada sekitar tahun 1900M, beliau berasal dari Pekalongan yang menurut cerita beliau masih memiliki hubungan darah dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Kyai Ismail datang ke Tampingan sebagai seorang Ulama untuk menyebarkan agama Islam. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Jawa bahwa seorang Ulama pasti diposisikan sebagai seseorang yang sangat disegani dan selalu di dengar pendapatnya, demikian juga dengan Kyai Ismail. Nashab dia sebagai seorang Habib juga menjadi pertimbangan lain bagi masyarakat disekitarnya untuk menghormati dan selalu didengar pendapatnya.

Lurah Kancil
Saat kedatangan Kyai Ismail kepemimpinan desa Tampingan belum terbentuk. Seperti sekarang, hadirnya seorang Pemimpin sangat dibutuhkan oleh masyarakat demikian juga ketika itu. Semula mayarakat menghendaki agar Kyai Ismail untuk menjadi Lurah Tampingan, namun demikian beliau tidak mau dan lebih memilih untuk menjadi Pendakwah. Tuntutan masyarakat akan hadirnya seorang pemimpin terus disuarakan hingga akhirnya masyarakat meminta pendapat kepada Kyai Ismail untuk menunjuk seorang Pemimpin.

Dengan musyawarah antara Masyarakat dan Kyai Ismail akhirnya ditunjuklah seorang Demang bernama Ki Kancil. Konon menurut cerita Ki Kancil adalah seorang Bajingan, Bajingan adalah sebutan bagi kusir gerobak yang merupakan alat transportasi tradisional yang ditarik dengan menggunakan sapi. Seorang Bajingan biasanya dianggap oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki kesaktian, demikian juga dengan Ki Kancil. Menurut cerita dari para sesepuh Tampingan Ki Kancil memiliki perawakan yang kecil namun tegas dalam memimpin Desa tampingan. Dengan ketegasan yang dimiliki oleh Ki Kancil membuatnya menjadi Kepala Desa yang cukup disegani oleh masyarakat Desa Tampingan dan desa-desa disekitarnya.

Kyai Husein
Setelah Lurah Kancil, kepemimpinan Desa Tampingan dipegang oleh Kyai Husein. Beliau  sangat disegani oleh masyarakat Desa Tampingan dan memimpin desa dengan penuh bijaksana. Sampai tahun berapa beliau memimpin Desa Tampingan tidak ada bukti tertulis maupun cerita turun temurun yang meninformasikan hal tersebut, yang pasti kepemimpinan beliau berlangsung pada masa penjajahan Belanda.

Kyai Ali Maksudi (1947-1951)
Kyai Ali Maksudi adalah Lurah yang terpilih sepeninggal Kyai Husein, beliau juga merupakan keturunan dari Kyai Ismail. Pemilihan Lurah kala itu cukup unik yaitu dengan sistem “ulo-ulo cabe” atau “lut-lutan luwing”, proses pemilihan ini sangat unik dimana calon berbaris sejajar dengan calon lainnya dan kemudian pemilih berbaris ke belakang mengikuti calon yang dipilihnya, proses pemilihan biasanya dilakukan di lapangan. Pada saat terjadi pemilihan sebetulnya Kyai Ali Maksudi tidak ikut mencalonkan diri dan beliau datang ke tempat pemilihan Lurah hanya untuk menyaksikan pemilihan tersebut. Melihat Kyai Ali Maksudi berada dilokasi tersebut banyak anggota masyarakat memintanya untuk ikut berbaris dengan calon yang lain, beliaupun memenuhi permintaan masyarakat dan ternyata barisan beliau paling panjang karena banyak pemilih dan akhirnya terpilihlah Kyai Ali Maksudi sebagai Lurah Tampingan.

Jalan Tampingan di lihat dari Jamban (sekarang Tambora) pada tahun 1948

Dalam perjalanan kepemimpinan Kyai Ali Maksudi tepatnya pada tahun 1950 terjadi huru-hara dimana rumah beliau dibakar oleh orang-orang PKI yang membuatnya harus mengungsi ke tempat saudaranya di Kauman, Semarang. Setelah suasana tenang akhirnya beliau pulang pada tahun 1951. Setelah kepulangannya beliau tidak mau lagi memimpin Tampingan dan menyerehkan kepemimpinan Tampingan  kepada Cariknya yaitu Jasmijan.

Jasmijan (1951-1980)
Seperti telah disampaikan sebelumnya, bahwa sebelum menjabat sebagai Lurah beliau menjabat sebagai Carik dan Lurahnya adalah Kyai Ali. Karena Kyai Ali tidak mau menjabat sebagai Lurah lagi maka Kyai Ali menunjuk beliau sebagai gantinya. Lurah ke-4 Desa Tampingan ini terhitung sebagai lurah yang palin panjang masa jabatannya yaitu antara tahun 1951 hingga tahun 1980 atau 29 tahun. Seperti desa lain pada umumnya, masyarakat Desa Tampingan rata-rata hidup sebagai petani dan sebagian hidup sebagai pedagang karena wilayah Tampingan berdekatan dengan Ibu Kota Kecamatan Boja. Tata pemerintahan pada masa kepemimpinan Jasmijan masih menerapkan sistem pemerintahan sesuai dengan jamannya ketika itu.

Sakdun MN (1980-1996)
Sakdun MN menjabat Lurah Tampingan selama 2 periode dimana aturan Pemerintah ketika itu untuk 1 periode pemerintahan adalah 8 tahun. Pembangunan Desa pada masa pemerintahannya cukup bagus banyak fasilitas masyarakat dibenahi dan disempurnakan. Kepemimpinan beliau berakhir pada tahun 1996 menjelang tahun reformasi saat Indonesia memasuki babak baru sistem baru dalam tata pemerintahan dan kebebasan berpendapat.

Drs. H. Abdul Mujib (1999-2007)
Drs. H Abdul Mujib adalah merupakan buyut dari Kyai Ismail dan juga cucu dari Kyai Ali Maksudi yang pernah menjabat Lurah pasca kemerdekaan Indonesia. Beliau terpilih sebagai kepala Desa Tampingan saat masih belia dan bahkan belum menikah. Lulusan IAIN Walisongo ini menjabat sebagai Kepala Desa Tampingan sebanyak 2 kali dalam periode ini. Dalam kepemimpinannya beliau banyak melakukan perubahan sistem pemerintahan. Bahkan beliau pernah mengambil langkah kontroversional bersama BPD dalam pengangkatan Sekretaris Desa dimana pada saat itu mekanisme pemilihan Sekretaris desa seharusnya dilakukan dengan cara pengangkatan namun beliau melakukannya dengan cara pemilihan seperti halnya pada pemilihan perangkat desa lainnya.

Harjono (2013-2019)
Harjono adalah Kepala Desa Tampingan ke-7 dalam tata pemerintahan Desa Tampingan, dalam masa pemerintahannya banyak pembangunan fisik desa yang beliau lakukan antara lain betonisasi jalan-jalan dusun, renovasi lapangan olahraga dan yang paling menonjol adalah pembangunan Pasar Desa. Dibawah kepemimpinan beliau kesejahteraan masyarakat Desa Tampingan semakin meningkat. Beliau juga dikenal oleh masyarakat sebagai seorang pemimpin yang memiliki kepedulian yang cukup tinggi terhadap rakyat.

Drs. H. Abdul Mujib (2020-Sekarang)
Ini adalah periode ke-3 dari kepemimpinan Drs. H. Abdul Mujib dalam pemerintahan Desa Tampingan, setelah sebelumnya Desa Tampingan dipimpin oleh Harjono. Dalam kepemimpinannya saat ini beliau lebih memfokuskan pembangunan Desa Tampingan dalam sektor ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat. Bersama jajaran Perangkat, BPD, BUMDes dan komponen masyarakat Desa beliau berkomitmen untuk membangun perekonomian masyarakat. Meskipun terkendala oleh Pandemi Covid-19 dimana hampir 50% Dana Desa digunakan untuk Bantuan Masyarakat namun Pemerintah Desa Tampingan beserta komponen masyarakat lainnya tetap memiliki semangat untuk membangunan perekonomian masyarakat dan bangkit untuk melawan Covid-19.

Kondisi Umum Desa

9

Kondisi Geografis Desa

Desa Tampingan adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Boja yang berada di bagian selatan Kabupaten Kendal. Jarak tempuh wilayah Desa Tampingan dari Ibukota Kabupaten Kendal adalah 27 km. Desa ini memiliki luas wilayah 193,64 Ha, dengan potensi lahan yang produktif di antaranya, persawahan.

9

Kondisi Sosial Budaya Desa

Kondisi sosial budaya Desa Tampingan masih kental dengan adanya gotong royong. Tingkat kepedulian sosial antar warga cukup bagus dan hubungan sosial humanisme masih terjaga dengan baik

9

Kondisi Ekonomi Desa

Kondisi ekonomi Desa Tampingan berada pada tingkatan menengah dimana tingkat pengangguran masyarakat pada kondisi normal dalam jumlah yang kecil. Mayoritas penduduk Desa Tampingan bermata pencaharian sebagai buruh pabrik dan buruh bangunan. Di samping itu, ada beberapa pada sector ekonomi mandiri atau wiraswasta.

9

Kondisi Infrastruktur Desa

Kondisi infrastruktur Desa Tampingan terhitung cukup bagus dimana jalan poros desa, jalan desa sudah tertata. Kemudian pada jalan-jalan gang dalam kampung masih membutuhkan perhatian untuk pemeliharaan.

Kantor Kepala Desa Tampingan

Jalan Tambora, Jalan antara Boja – Tampingan, foto diambil pada tahun 1947 dari arah Jamban

Jembatan sungai Blorong tahun 1947

“Kerjasama hanya berorientasi pada profit semata sedangkan kerja bersama akan melahirkan rasa senasib sepenanggungan diantara orang yang berperan didalamnya”

Drs. H Abdul Mujib, Kades Tampingan

Contact Us

Lorem ipsum dolor sit amet consectetur elit.

+00 123 456 7893

divi-construction@gmail.com